0

Esensi Liburan itu : BALI

Kamu pasti pernah denger : Liburan itu jangan ke luar negeri dulu, kalau di dalam negeri aja kamu belum ngeh bahwa obyek wisata di Indonesia itu buanyaaak dan bagus-bagus. Nah, dari situ saya juga mau bilang, dari sekian banyak obyek wisata di Indonesia, jangan kemana-mana dulu kalau kamu belum pernah ke Bali. Yup, Bali adalah esensi dari Wisata di Indonesia. Semua traveler Indonesia, yang level standar aja dulu –ga usah yang expert-wajib tahu apa itu “BALI”.

Nah, mungkin “Bali yang sesungguhnya” itu bisa dinikmati kalau saya punya duit 10 juta rupiah yang bisa saya habiskan tanpa mikir. Bukan karena saya belum pernah ke Bali, tapi karena saya ingin meresapi dan menyelami apa itu sesungguhnya yang dinamakan ‘liburan di Bali’, sampai suatu saat jika Tuhan mengijinkan saya jalan-jalan ke tempat yang lain. Selain itu, liburan ke Bali itu pasti simpel, gampang, banyak pilihan dan digaransi Tuhan –apalagi dengan akomodasi yang cukup.

Oke, dengan budget 10 juta, saya akan buat planing perjalanan ke Bali selama 6 hari atau 1 minggu. Saya akan pakai bantuan Traveloka App buat bikin travel plan. Kita bisa mulai misalnya mulai hari Jumat tanggal 8 Mei 2015 sampai tanggal 13 Mei 2015. Karena saya dari Surabaya, saya mau berangkat naik Citilink penerbangan paling pagi. Kenapa?

Karena tujuan yang pertama akan saya kunjungi bukan di Denpasar, tapi langsung keluar kota, yaitu Bedugul. Tentu harus berangkat sepagi mungkin karena setelah sampai di Bali saya butuh waktu untuk mengurus beberapa hal, salah staunya transportasi. Liburan di Bali itu butuh transportasi. Banyak pilihan kendaraan disana yang bisa dipakai dari rental mobil atau motor, dikendarai sendiri atau pakai supir, bebas aja. Tapi kali ini saya akan menggunakan mobil tanpa supir yang akan saya sewa di sana untuk berkeliling di Bali dengan harga Rp. 250.000,- per hari.

Di Begudul, saya akan mengunjugi Kebun Raya Eka Karya yang adem dan romantis banget. Saya bisa menyusuri Kebun Raya itu, atau sekedar menggelar tikar dibawah pohon rindang dan menikmati udaranya sambil merasakan nuansa alam Bali yang khas. Disana juga ada Rumah Kaktus yang selain bisa buat nambah wawasan tentang flora Indonesia, juga sebuah tempat yang punya banyak spot bagus buat foto-foto.

Candi Kuning retreat

Puri Candi Kuning Retreat Room : Pintunya menghadap ke Danau!

Candu Kuning retreat3

Puri Candi Kuning Retreat : Suasana yang Damai

Tapi tidak itu saja. Kalau bicara tentang Bali, itu identik sekali dengan foto atau gambar sebuah Pura yang ada di tengah Danau. Yup, itulah foto Pura Ulun Danu dan Danau Beratan, yang tempatnya ada di daerah Bedugul. Sore hari, saya ingin menikmati syahdunya alam Bali dengan memandangi Danau itu dari Hotel Puri Candi Kuning Retreat dan saya akan menginap selama 2 malam disana. Ini adalah hotel mewah yang berada tepat di tepi Danau Beratan di Desa Candi Kuning, kawasan wisata Bedugul. Kamar-kamarnya memiliki sentuhan tradisi Bali namun tetap modern dan tentunya juga pas menghadap ke danau. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya perpaduan suasana yang tenang dengan pemandangan Danau Beratan yang menawan, serta kenyamanan kamar yang sensasional. Memang tidak murah, karena harga kamar disana hampir lebih dari 1,5jt rupiah untuk akomodasi 2 orang. Tetapi dengan akomodasi dengan kelas serupa di tempat lain di Bali, saya masih masih bisa menemukan yang jauh lebih mahal.

Point

Pura Ulun Danu di Tengah Danau Beratan : Simbol Khas Tourisme Bali

Next, apa yang akan dilakukan di Bali?

Dengan 10 juta rupiah?? Banyak!

Semua orang tahu, pantai yang indah itu ada di Bali. Maka dari Bedugul saya akan bangun pagi-pagi untuk melihat pemandangan pantai yang indah pada pagi hari di sekitar Lovina, waktu yang pas untuk ikut tur melihat lumba-lumba ditengah laut yang banyak ditawarkan disana. Konon harga turnya hanya sekitar 100ribuan per orang dengan menggunakan perahu-perahu nelayan. Lalu setelah itu saya bisa makan siang dengan berbagai menu sea food yang banyak dijajakan resto-resto di sekitaran Lovina.

Setelah dua malam bermalas-malasan di Bedugul (dan Lovina), siang di hari ketiga saya akan berangkat ke Denpasar dan Kuta. Tujuan pas’nya adalah Legian. Saya akan chek in dulu disini siang hari supaya nanti malam saya bisa jalan-jalan melihat berisiknya jalanan disana yang penuh dengan restoran dan café full music tempat nongkrong para Bule. Disini saya bisa menginap di Kuta Central Park, alamatnya di Jl. Patih Jelantik, tidak jauh dari Jalan Legian Kuta.

 Oke, tapi setelah Chek In saya akan ke Garuda Wisnu Kencana (GWK) dulu. Tahu kan? Ituuuhhh…tempat wisata yang terkenal dengan patung Dewa Wisnu dan Patung Garuda yang besar banget tapi hanya setengah badan, serta patung beberapa tangan. Patung-patung yang sepertinya hanya potongan-potongan itu memang bagian dari sebuah rancangan Patung Raksasa yang sebenarnya belum jadi. Kawasan GWK konon memang sebuah megaproyek yang nanti di dalamnya akan ada sebuah patung super besar berupa wujud Dewa Wisnu yang sedang mengendarai Burung Garuda. Patung itu di desain sangat besar agar terlihat dari radius jarak 20 kilometer.

GWK_2

Patung Dewa Wisnu dan Patung Kepala Burung Garuda. Semuanya masih berupa potongan, tetapi sudah terlihat kemegahan dan keindahannya.

Makanya, patung yang belum jadi itu saja sudah sangat besar, bisa dibayangin bagaimana kalau sudah jadi ya?? Sayang karena krisis moneter tahun 1998 yang lalu, proyek pembangunan patung itu terhenti dan ga tahu kapan akan dilanjutkan lagi. Namun kawasan itu tetap dibuka, tetapi kayaknya lebih fokus untuk menjual atraksi budaya khas pulau Dewata, dan itulah yang ingin saya cari disana. Setiap hari di GWK ada event tari-tarian Bali yang eksotis disana yang dapat dinikmati secara gratis, seperti pagelaran Tari Topeng, Tari Cendrawasih atau Tari Kecak. Selain itu juga selalu ada special event yang tiap waktu selalu berganti-ganti, tetapi pasti selalu spesial sesuai dengan namanya. Ada juga sesi foto dengan background kebudayaan Bali oleh fotographer profesional yang bisa dicoba sebagai kenang-kenangan.

GWK_3

Kalau sudah jadi, patung Garuda Wisnu Kencana akan berbentuk kurang lebih seperti ini. Bisa dibayangkan, kalau yang sepotong-sepotong saja sudag sedemikian besar, bagaimana besarnya kalau jadi seperti ini.

Sore menjelang malam, suasana di GWK akan  mulai menghangat dan indah dengan nuansa  kemerahan, karena perbukitan kapur putih  disana yang mulai dipapar dengan cahaya  senja. Disaat itulah saya akan menuju  Restoran Jendela Bali yang di website’nya  menawarkan konsep “Panoramic Restaurant”,  karena selain tentu makanannya yang –  seharusnya- enak (ya iya lah wong mahal.  Hehehe), resto itu menawarkan pemandangan  matahari terbenam di sore hari dan  pemandangan kelap-kelip daerah Benoa, Jimbaran, Sanur dan Denpasar. Wow!  Terbayang banget damainya Bali sampai  masuk di hati.

Lanjut, usai dari GWK, malam saya pulang ke  hotel di Legian untuk mandi dan istirahat  sebentar. Jangan lama-lama, karena disekitar  situ adalah kawasan dugem dan nongkrong para Bule. Saya sih ga pengen gabung buat  dugem sama Bule-bule itu ya.. Tapi agak ga  cocok aja buat saya, kalau jalan-jalan itu  dipake mabuk. Bayangin berapa banyak waktu yang bisa kita pakai buat menikmati liburan daripada terlewat gitu aja nunggu siuman di kasur.

Tapi memang sih itu masalah selera. Ada memang banyak orang yang –meskipun bukan Bule- bisa menikmati Legian dengan nongkrong di café-café, memesan Bir atau Wine, atau Swedish Coffe yang rasanya sumpah pahit banget dan kalau ditambahin gula bukannya jadi manis tapi malah jadi kayak tambah pahit. Nah, kalau saya, justru karena ada orang-orang seperti itulah makanya Legian bisa jadi obyek wisata buat saya. Bali itu ciri khasnya kan Bule, dan kalau di Bali kamu sampai ga ketemu Bule, wah..jangan-jangan kamu salah tempat. Jadi saya suka aja jalan-jalan kaki menelusuri sepanjang jalan Legian Seminyak buat menikmati suasana jalanan yang penuh Bule, ngeliat meriahnya cafe-café disana (-note: ngeliat aja, ga masuk! Hehehe.).

Besoknya saya akan bersantai dulu di Hotel sehari untuk melepas capek setelah 4 hari nggenjot pedal gas. Bolehlah kita nikmati pijat di SPA yang ada di hotel ––kan uangnya banyak. Hehehe— Atau kita nikmati layanan kamar, dengan pesan makanan di kamar, atau berenang di kolam renang yang ada hotel. Nah, kalau ga bosen, mungkin bisa juga mampir ke Pantai Kuta di dekat hotel, karena kalau Esensi Wisata di Indonesia itu Bali, maka kamu belum pernah ke Bali kalau ga tahu apa itu Pantai Kuta. Tapi pagi hari, saya akan coba jogging ke alun-alun kota Denpasar yang sering kita dengar dengan nama Puputan Renon, atau lengkapnya Puputan Margarana Renon. Masyarakat dan anak-anak muda di Denpasar sering sekali berolahraga dan bercengkerama di tempat ini. Disana juga ada Monumen Bajera Sandhi, merupakan monumen perjuangan rakyat Bali melawan para penjajah. Tempat ini perlu di kunjungi supaya kita bisa sekedar merasakan denyut nadi Denpasar yang sesungguhnya.

Monkey Forest

Monyet di Monkey Forest

Setelah dengan Legian dan sekitarnya, saya juga mau ke Taman Safari Indonesia III, yang nama kerennya adalah Safari Marine Park Bali. Ini adalah Kebun Binatang yang masih satu seri dengan Taman Safari I di Bogor dan Taman Safari II di Malang/Pasuruan dan satu-satunya Taman Safari yang belum pernah saya datangi. Perbedaan taman safari ini dengan taman safari yang lain, dilihat dari websitenya ada pada sentuhan budaya dan nuansa Bali. Disana banyak paket hiburan yang sifatnya atraksi Budaya seperti sendratari atau parade budaya yang digabungkan dengan wisata fauna. Buat saya ini percampuran yang agak aneh ya, tapi sepertinya, kalau ibarat makanan, mungkin ini adalah Rujak Soto (makanan khas Banyuwangi, campuran rujak dengan soto babat), aneh tapi enak.

Dari Taman Safari, next trip yaitu Ubud. Buat saya, Ubud itu seperti kota museum. Banyak museum disana, yang umumnya adalah museum lukisan. Tapi jujur, karena saya bukan penikmat lukisan, maka objek yang ingin saya kunjungi adalah Monkey Forest. Ga tau ada apa disana, selain monyet dan bule, tapi yang jelas saya belum pernah kesana. Katanya, ditempat itu juga ada kuburan Desa yang sering ada upacara Ngaben yang oleh dilihat para wisatawan. Tapi saya ga mau aaah…, berdoa semoga saya beruntung bisa melihat Ngaben, karena itu sama saja saya berdoa semoga ada orang yang meninggal. Hehehe.

Screenshot_2015-04-27-12-12-41

Nama Besar Hotel Harris, jarang banget dapat harga dibawah 500rb @nigth

Selesai dari Taman Safari dan Monkey Forest, saatnya sekarang kita santai dulu dengan chek in di Hotel. Karena ini adalah akhir perjalanan, saya ingin mencari akomodasi di dekat Bandara, agar memudahkan saya nantinya untuk pulang. Jadi pilihannya adalah Hariis Hotel Tuban. Berdasarkan informasi di Traveloka, jarak hotel ini hanya sekitar 800 meter dari Bandara.

Oke, putar-putar di Bali sudah selesai, dan waktunya untuk pulang.

THE ITENERY

Seluruh perjalanan diatas, jika diringkas akan menjadi itenery seperti ini :

Tiket Pesawat (Sub-Dps, PP) :

Rp. 1.459.017,-

Screenshot_2015-04-27-17-44-56

Tiket Citilink, bisa untuk berdua

Screenshot_2015-04-27-10-25-47

Puri Candi Kuning Retreat : memang mahal, tapi sebanding

Hari : 1-3 (8-10 Mei 2015)

Hotel Candi Kuning Retreat:

Rp. 3.523.351,-

Tur Lumba2 Lovina :

Rp. 500.000,-

Hari ke 3-5 (10-12 Mei 2015)

Hotel di Kuta Central Park :

Rp. 732.259,-

Hari ke 5-6 (12-13 Mei 2015)

Marine Safari Park + Monkey Forest  :

Rp. 1.000.000,-

Hotel di Hariis Hotel Tuban :

Rp. 404.468,-

Screenshot_2015-04-27-11-57-41

2 malam ga sampai sejuta

 

Hari 6 (13 Mei 2015)

 Bayar sewa mobil :

 6 hari X Rp 250.000,- = Rp.1.500.000,-

 Total Budget :

 Rp. 9.119.095,-

 

Total Budget diatas adalah budget dasar  yang dapat diperhitungkan lho ya, karena itu masih saya sisain budget yang perlu disisihkan untuk  beberapa pengeluaran yang belum tercantum, seperti makan –beberapa kali makan sudah termasuk dalam paket hotel sih–, kalau-kalau mau beli oleh-  oleh, Tiket masuk di beberapa obyek wisata dan tentunya BBM buat mobil Rental. Tapi kurang lebih, ga akan jauh lah dari angka 10 juta  perak, atau bahasa marketing sekarang itu : “masih 10 jutaan“. Hehehe.

Akhirnya, ini memang sebuah angan-angan, tapi bagaimanapun, sebuah perjalanan itu entah murah atau mahal, semua perlu direncanakan. Terima kasih untuk yang sudah membaca, semoga tulisan ini bisa jadi panduan juga buat kamu yang  pengen buat travel plan ke Bali. Selamat Berlibur…

TENTANG TRAVELOKA APP :

Buat saya, seperti yang terlihat di Blog ini, Traveloka App sangat recommended buat bantu nyusun rencana liburan saya. Beberapa harga hotel bisa jauh lebih murah kalau pesan di Traveloka App, seperti hotel Haris yang rata-rata diatas 500 ribu, di Traveloka bisa hanya dengan 400 ribuan saja. Banyak juga lho beberapa promo yang super lumayan buat menghemat budget. Selain itu penggunaan aplikasi ini simpel dan mudah karena ada fasilitas E-Tiket yang mudah diakses tanpa harus di cetak.

0

Resign PNS: Belajar Menentukan Pilihan

boli - boli

Sumber gambar: kompas.com Sumber gambar: kompas.com

Sejak 1 April 2014, saya tidak lagi berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di salah satu Lembaga Pemerintah NonKementerian di Republik ini. Alhamdulillah, akhirnya saya berani memutuskan memilih jalan resign ini. Untuk sebagian orang, mencari pekerjaan atau berhenti bekerja bukanlah perkara yang sulit dan perlu dipikirkan terlalu rumit. Tapi bagi saya, masalah resign ini mengharuskan saya bertempur sekaligus berdamai dengan diri saya sendiri. Bagaimanapun, enam tahun sudah sukses membentuk mental dan pola pikir saya menjadi “sangat PNS”.

Saya salut luar biasa kepada teman-teman PNS yang masih berpendirian teguh menjadi bagian dalam perbaikan sistem pemerintahan negara dan memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat. Kualitas PNS Indonesia sudah semakin membaik. Tudingan-tudingan negatif yang memojokkan PNS, tidak sepenuhnya benar. Mungkin ada yang menjadi PNS karena “sogokan” atau “titipan”, tapi banyak teman saya yang sangat brillian, lulusan universitas termuka, atau jebolan perusahaan ternama. Kalau PNS dituduh pemalas dan sering membolos, teman saya…

Lihat pos aslinya 629 kata lagi

Gambar
0

Belajar dari Sesuatu yang Salah…

Belajar dari Sesuatu yang Salah...

Pada suatu hari, di ruang kelas 6 SD Negeri III Tawangmangu, Guru pembimbing kelas mengajukan pertanyaan dari LKS (Lembar Kerja Siswa) kepada para siswanya, “Airbus adalah alat transportasi : a) darat b) air. c) udara? Ayo yang bisa jawab angkat tangan…

Karena sudah watak anak SD, mereka semua berebut menjawab dengan yakin, tentunya tanpa angkat tangan : “AIRRRRRRRR…..!”

Hanya satu anak yang diam tapi dia tetap mengangkat tangan, menunggu kesempatan menjawab pertanyaan itu saat nanti teman-temannya diam.

Sang guru berusaha menghentikan keributan itu.

“Anak-anak…..tolong tenang! Yang mau menjawab, harus angkat tangan”, seru Sang Guru sambil menatap anak yang sedari tadi mengangkat tangan.

“Ya, Agung. Apa jawabanmu?”

“Airbus itu pesawat, Bu! Jadi jawabannya b”, jawab saya saat itu.

“Loh…piye tho bocah iki? SALAH! Airbus itu bus ya Bus yang jalan di air, semacam kapal yang ada di kalimantan. Kamu belum pernah dengar ya tentang Bus Air?”
………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Ibu Guru dan sekolah saya yang sangat berjasa dalam kehidupan saya, namun kenangan tentang momen yang menggelikan itu masih jelas di ingatan saya. Saat – saat dimana saya berani mendebat beliau, karena saya yakin benar. Padahal usia saya saat itu masih sangat ingusan dan membuat posisi saya saat itu tidak memungkinkan untuk memenangkan perdebatan dengan oran tua. hehehe.

Itulah kelas dan sekolah saya saat itu, dimana kami semua adalah warga desa yang pada umumnya tidak memiliki wawasan yang cukup luas untuk mengetahui bahwa Airbus adalah sebuah merek pesawat yang berbasis di Eropa. Satu-satunya saingan Boeing hingga saat ini dalam persaingan produsen pesawat berbadan besar.

Jangankan mengetahui, melihat dengan dekat dan membayangkan terbang bersamanya saja, tidak pernah terbayang dalam benak saya.

Tapi apapun, pendidikan itu bukan hanya proses belajar dari sesuatu yang benar. Meskipun tidak mudah, pendidikan juga adalah proses belajar dari suatu kesalahan.

Dan pelajaran terpenting yang terpetik untuk hidup saya dari kenangan itu adalah :

“Saya tidak harus memenangkan perdebatan saat saya berada pada posisi yang benar. Tetapi bagaimana saya bertahan meyakini apa yang saya anggap benar, sampai mata, kepala dan pikiran saya yang membuktikan, bahwa yang saya yakini ternyata salah atau… benar, tanpa mengurangi hormat saya pada orang yang berbeda pendapat dengan saya.”

BAHUDA

4

Bahagia Itu Soal Rasa..

Saat melihat foto-foto perjalanan saya di jogja, seseorang teman yang punya pengalaman keliling dunia berkata pada saya dengan nada narsis tapi dengan maksud hanya bercanda..

“Kasian sekali kau, bisa ke Jogja aja segitu happy-nya.. Aku sudah sampai ujung dunia, biasa aja tuh..”

Hahaha. Aneh ya..orang happy kok dikasihani??

Dalam hati saya bilang, justru dia yang kasihan. Sudah sampai ujung dunia, kok biasa-biasa saja.

Saya hanya butuh duit kurang dari sejuta untuk membayar ke’happy’an saya! Sementara teman saya.. 20 juta mungkin juga ga cukup, itu pun masih ga se’happy’ saya..

Ternyata bahagia itu soal rasa..
Bukan tidak penting apa yang membuat kita merasa bahagia..
Tapi rasa itu muncul tergantung bagaimana kita menikmatinya, bagaimana kita iklhas menjalaninya, dan bagaimana kita mensyukurinya..

Apapun yang kamu mau..apapun yang kamu dapat..syukurilah.
Semoga kamu bahagia.

I Bahuda